Karya Boo
Terlahir dengan tangan kanan yang patah
ketika angin mulai mengetuk dedaunannya
Ia malah berlari menerjang sahara
Dan jahanam dijadikan kekasih abadinya
Langkah - langkah kecilnya
Mengejar matahri
Camar-camar senja bernyanyi
Kedua kakinya terbelenggu
Ini panggungku
Panggung hitamku
bakarlah api unggun
itu hanyalah kayu-kayu rapuh
Sayap yang patah dan kembali
bulunya tercerai tersapu deru angin utara
menetap diburitan barat
Setapak binasahkan nanah dan gumpalan najis dikantungnya
memerkosa kuncup-kuncup hijau dipegunungan
Bau bangkai ia simpan dilampu kristal kamarnya
Persidangan didepan topeng bisu
bukannya mereka tak bisa berkata
tetapi mereka memerankan tunanetra
Cantiknya tersohor hingga dunia maya meminangnya
bunyi decap .. bersama jeritan .. dan rintihan
gerimis dan api unggun diatas panggung
masih ada setetes anggur di ujung pangkal lidahnya
Terangkat namun masih bersandar
Terbang tetapi tak lepas dari tongkatnya
Berjalan tapi masih tenang dalam diam
Duduk lalu berdiri lagi
Ketika ombak mulai mengejarnya
Ia pun siap berlari
satu .. dua .. tiga ..
pintu terbuka lebar
semua tawa terbagi di setiap pasang mata ..